Minggu, 26 Oktober 2008

Antek2 Industri Pornografi, untuk kebebasan Destruktif!

Antek-Antek Industri Pornografi, Untuk Kebebasan Destruktif!

Oleh: Gatot Aryo

Kebebasan telanjang diruang-ruang publik, seperti media cetak, elektronik, bahkan klab-klab malam, telah di bela habis-habisan oleh sekelompok orang yang berfikiran pendek, destruktif bahkan terjangkit paranoidsme Islam. Saudara-saudara kita yang selama ini terexploitasi tubuhnya oleh kapitalisme industri pornografi, dan menjadi korban demi secuil rupiah, dan terpaksa menjual moralitas dan keyakinan beragamanya seolah-olah tak dipertimbangkan untuk perlunya sebuah UU Pornografi.

Atas nama keafifan lokal dan tradisi kedaerahan, kelompok tersebut memaksa industri pornografi diterima keberadaannya tanpa memikirkan kerusakan moral dan prilaku anak Bangsa yag berada di ujung tanduk. Tanpa kesadaran akan bahayanya pornografi, kelompok yang miskin moral ini seenaknya mendukung pornografi tanpa berfikir seandainya saudara perempuan mereka, terjebak dalam perangkap industri pornografi. Dan tubuh saudara perempuan mereka itu di telanjangi dan di pajang di ruang-ruang publik. Semata-mata untuk menarik perhatian jutaan mata makhluk pemburu selangkangan, yang ingin memuaskan birahi nafsunya di hadapan produk-produk pornografi tersebut.

Sebagian masyarakat tidak habis bertanya pada laskar industri pornografi, untuk apa menolak RUU Pornografi, kalau UU tersebut menyemangati sebuah perubahan positif bagi masyarakat Indonesia. Apa untungnya menolak RUU Pornografi ini kalau exploitasi sexualitas dapat di cegah dengan RUU ini.

Penyebaran produk-produk industri pornografi yang merusak mental rakyat harus di hentikan, dan UU Pornografi adalah payung hukum itu semua. Bukan kah baik kalau kalau Masyarakat Papua dan Bali yang memiliki tradisi dan adat istiadat, dikelola sesuai kebutuhan dan kapasitasnya tanpa harus terexploitasi industri pornografi.

Tradisi sebuah masyarakat senantiasa bergerak secara dinamis dan tidak statis. Sebuah tradisi telanjang dalam komunitas budaya tertentu adalah produk kreativias individu-individu masyarakat yang perlu dikoreksi, semata-mata agar tradisi tersebut bermetamorfosis menjadi lebih beradab.

Melaui tradisi yang progresif dan konstrukif, masyarakat budaya tetap bisa berkreasi menghasilan produk-produk kreatif yang bermartabat. Karena tradisi yang ditunggangi pornografi industri, tak akan menjadi produk budaya yang dapat membawa Indoneisia menjadi Bangsa yang bermartabat di Dunia. Justru sebaliknya, tradisi tersebut dapat mencoreng wajah Bangsa ini.
Justifikasi Industri Pornografi

Pembatasan kreatifitas yang mengarah pada industri pornografi, sama sekali tidak akan mematikan semangat dan kreativitas berkarya. Justru sebaliknya malah semakin menghidupkan kreatifitas berkarya agar lebih bermakna bagi umat manusia. Karena karya cipta akan di fokuskan dan dimaksimalkan pada karya-karya yang positif, bukan karya-karya yang liar dan membabi buta. Agar generasi di masa yang akan datang lebih menghargai warisan leluhurnya, bukan kesan yang beraromamakian dan rasa malu karena selera leluhur mereka sangat rendah dan amoral.

Kebebasan indutri pornografi harus di batasi oleh pembatasan konstruktif aturan undang-undang. Untuk mengurangi expolitasi sexualitas dalam kerangka moral, dan nilai-nilai positif yang diakui semua agama diseluruh Dunia. Bahkan di Negara yang paling Liberal sekalipun pembatasan pada industri pornografi itu ada undang-undangnya.

Kemudian apakah pembatasan pornografi akan menciptakan disintegrasi Bangsa. Karena beberapa propinsi seperti Bali dan Yogya telah jelas-jelas menolak, dengan alasan tradisi di wilayah mereka masih berbau Porno. Dan budaya pornografi mereka laku di jual dalam Parawisata. Setau penulis, faktor yag banyak menyebabkan disitegrasi Bangsa adalah faktor ekonomi dan keamanan.

Pemikiran yang terlalu dangkal apabila pornografi menjadi akar disintegrasi sebuah Bangsa, justru kalau RUU ini tak di sahkan peluang disintegrasi lebih besar. Karena dari 34 propinsi di Indonesia hanya 4 propinsi yang menolak, artinya ada 30 propinsi yang menerima. Coba anda bayangkan apa yang akan dilakukan 30 wilayah tersebut kalau UU pornografi tak disahkan?!.

Hal lain soal diskriminasi Gender, ada kelompok yang berpendapat bahwa permpuan hanya dijadikan objek bukan subjek dalam UU ini. Dari pasal-pasal yang saya baca justru perempuan malah dijadikan subjek yang di lindungi dari exploitasi industri pornografi. Justru yang menjadikan perempuan sebagai objek selama ini adalah Industri Pornografi, harusnya para aktivis perempuan tersebut mempersoalkan masalah gender ini pada industri-industri pornografi di Negeri ini.

Bukankah bagus apabila seorang perempuan dilarang melakukan sesuatu yang akan merusak dirinya. Jangan sampai karena kebutuhan secuil materi, seorang perempuan terpaksa merelakan tubuhnya di pajang tidak secara pantas diruang-ruang publik.

UU Pornografi ini memang bentuk intervensi Negara pada urusan privat, dan tidak ada hal yang salah dengan ini. Karena dalam KUHP sendiri ada Hukum Perdata, aturan yang mengatur urusan privat warga negaranya. Hukum Perdata adalah bentuk intervensi Negara pada rakyatnya, dan itu sah-sah saja. Kalau anda kecopetan, di aniaya, atau di perkosa di jalanan, apakah anda tidak akan melapor ke polisi dan menganggap itu urusan privat. Kalau anda menolak UU Pornografi karena hal itu adalah bentuk intervensi Negara pada urusan Privat, saran saya anda terlebih dahulu berdemo untuk peghapusan Hukum Perdata di Negeri ini.

Terakhir apakah UU Pornografi ini merupakan bentuk pemaksaan nilai kepercayaan agama tertentu dalam aturan Negara. UU tersebut dianaggap bentuk Syariahisasi Budaya terhadap kultur masyarakat Indonesia yang prulal.

Pertanyaannya apa yang salah dengan Syariat Islam?!. Apakah nilai-nilai Syariat Islam bagitu menakutkan sehingga dapat merusak moral Bangsa. Kalau memang seperti itu, penulis adalah orang pertama yang akan melawan. Syariah Islam memang menyemangati nilai-nilai anti pornografi, tapi bukan semata-mata syariah Islam saja yang anti pornografi. Hampir sebagian besar agama di Dunia ini juga menolak Pornografi.

Apakah menurut anda Pornografi tidak merusak Bangsa?, silahkan anda melakukan kajian dan penelitian soal ini. Data terbaru dari Komnas Anak, 62,7% siswi SMP di Indonesia terindikaskan tidak perawan. Dan penyebab utamanya adalah karena mereka sering mengkonsumsi produk-produk Pornografi.

Produk pornogarafi dapat menyebabkan orang melakukan Sex Bebas, terutama anak muda. Dan hal ini dapat menyebabkan penyebaran Virus HIV AIDS, meningkatkan angka Aborsi, dan merusak masa depan generasi muda. Dari kajian Kriminologi, mengkonsumsi produk Pornografi dapat menyebabkan seeorang melakukan pemerkosaan. Kalau dampak negatifnya sangat berbahaya, kenapa kita masih menolak RUU Pornografi.

Jadi apakah Syariat Islam salah, kalau menyemangati penolakan pada produk-produk Industri Pornografi yang banyak menyebar luas di masyarakat. Apakah masalah sebenarnya adalah virus Islamphobia yang menjangkit hati dan pikiran kita. Coba kita sedikit berfikir jernih, dan mengkaji masalah ini tanpa sentimen negatif pada ajaran agama tertentu. Dan melihat persoalan ini secara arif dan bijak.

Kebebasan Destruktif

Segala macam produk industri pornografi, mulai dari Film, CD, DVD, Majalah, Buku, koran, Syair, Suara, lukisan, sketsa, patung yang merangsang hasrat sexual, dan melanggar nilai-nilai asusila harus di hentikan. Kita arus menyadari bawa hal tersebut dapat merusak moraliatas Bangsa. Jangan hanya karena komersialisasi pornografi, moralitas Bangsa digadaikan untuk pundi-pundi uang receh yang tidak seberapa.

Industri Pornografi perlu di batasi untuk menghidari dampak negatif yang lebih luas, dan akan merugikan Bangsa di masa yang akan datang. Generasi muda kita jangan dijadikan korban kebebabasan destruktif industri pornografi yang hanya mementingkan keuntungan jangka pendek.

Indonesia adalah Negara ketiga terbesar di dunia yang mengkonsumsi produk-produk Pornografi. Ini sebuah bukti bahwa Bangsa Indonesia dalam bahaya. Tak ada obat lain dari kebebasan destruktif (Pornografi Industri) selain Pembatasan konstruktif (UU Pornografi), hal ini perlu di lakukan untuk membentengi Bangsa ini dari kerusakan moral. Dan hal ini membutuhkan pemahaman dan kesadaran dari semua elemen-elemen Bangsa.

Penulis adalah pengamat muda PSTD
(Prisma Study Trans Dimension)
gatotkumuh@yahoo.com
gatotaryo.blogspot.com (non fiksi)
gatotkumuh.blogspot.com (fiksi)
komunitascoretan@yahoogroup.com

Tidak ada komentar: